Kamis, 24 Februari 2011

Tari Saman SMA al muslim

Andai ketika saya muda dulu saya mengenal tari saman demekian dekat seperti sekarang, mungkin ceritanya akan lain.

Saman adalah tarian khas Tanah Gayo. Di





tarikan bersama-sama. Lebih banyak penari, kalau menurut saya lebih asyik. Perpaduan kecepatan dan ketepatan gerakan tangan dan kepala sangat eksotis. Membuat penikmat seni berdecak kagum.


Selasa, 22 Februari 2011

Homestay Pangalengan, 21, 22, 23 Januari 2011

Wow. Ke Pangalengan lagi. Seperti biasa, homestay.
Kegiatan ini rutin diadakan di SMA Al Muslim.



Kontributor, Workshop Kewirausahaan Sosial British Council di Ponpes Al ittifaq

Alhamdulillah, senangnya dapat telepon dari mas Audrey sore itu. Tepat sepekan setelah saya mengikuti kegiatan Homestay di Pangalengan.

Bersama teman-teman dari beberapa daerah di Indonesia: Ada Pak Ir. Azhar Qozazirin, Bapak Budi Purnawanto, ST,M.Mpd., Ibu Iip Waripah, Ibu Ir. Salamah, Bapak Setyawan, Bapak Syaeful Alam, S.PdI., Mbak Mahardhika Sadjad, dan Pak Fajar Anugerah.

Senang rasanya berkumpul dengan para inspirator.

Hanif Hilang

Saya tidak mengada-ada ketika bercerita tentang hanif yang hilang beberapa minggu lalu. Cerita awalnya berlangsung seperti biasa. Sangat biasa. Pada sore itu pulang dari sekolah, kami ke rumah embahnya. Mengobrol sebentar. Tanpa terlalu sering melihat hanif berada di mana. Menjelang maghrib kami beranjak pergi. Kami mendapati ternyata hanif tidak ada. Tidak ada. Kemana ya?
Seseorang berkata, mungkin ikut akmal, sepupunya, ke masjid.
Akhirnya dengan bermotor kami pergi ke musholla. Tidak ada hanif. Saya sudah membayangkan hal yang tidak-tidak. Perasaan, jantung berdegup lebih capat dari biasanya.
Lemas dengkul ini.
Di mana hanif ?
Ayo kita cari ke masjid depan, Pak. Saya mengajak suami bergegas ke masjid depan.
Saya merasa tiba-tiba perasaan ini hampa. Masjid depan kan jauh.
Apa yang terjadi kalau hanif juga tidak ada di sana?
gusti Alloh.
Baru ditinggal sebentar, hanif sudah pergi entah ke mana.
Saya langsung memburu akmal yang terlihat duduk di teras depan masjid.
Mana hanif ?
Nggak tauu...
Haah???
saya agakk melihat si akmal ini seang punya masalah.
Dia seakan-akan sedang menunggu kehadiran saya dan bersiap mengatakan : tidak tahu.
Gak beres nih anak.
Saya mencurigai sesuatu.
Perangai anak ini licik. Saya merasakannya.
Sekembalinya kami ke arah rumah embah kembali, kami bertemu beberapa orang.
Saya sempat berbincang dengan suami saya di motor. Saya kurang tahu persis, apakah suami saya juga mendengarkan kata-kata saya, yang pasti saya juga kurang menangkap jelas jawabannya.
Perilaku orang panik.
Dalam hati saya terus mengutuk akmal, saya yakin betul dia tau hanif tadi mengikuti dia.
sesampainya di rumah embah, beliau terlihat berdiri panik juga. Raut mukanya serius. Sayup-sayup saya mendengar suara tangisan hanif. Ow... sudah ketemu, rupanya.
Alhamdulillah. Saya memeluk hanif erat. Maafin ibu ya nak..
Terbata-bata hanif bercerita tentang petualangannya barusan.
embah memperjelas cerita hanif.
Jadi ceritanya, akmal bersepeda akan pergi ke masjid. Hanif ingin ikut. Entah akmal tau atau tidak. Hanif berlari mengejar akmal. Entah di mana, si gendut hanif tidak lagi mampu mengejar kayuhan sepeda akmal. Dia tersesat ke daerah yang agak jauh dari rumah embah. Ditemukan oleh seorang tetangga yang juga bertanya, ini anak siapa.
Namamu siapa ? Hanif
Ibumu namanya siapa? Ibu hanif
Bapakmu namanya siapa ? bapak hanif
Hari itu kami sempat kehilangan hanif.
hari itu juga kami bertekad, hanif harus ikut kemanapun kami pergi...
Walau dada masih berdebar, dan kaki terasa lemas, saya masih belum merubah pendapat tentang akmal : hati-hati terhadap anak itu!

Selasa, 08 Februari 2011

Saya mengambil pelajaran dari kematian Adjie Massaid


9 Pebruari 2011. 4 hari setelah wafatnya Adjie Massaid.
Masih merasa kehilangan, mungkin karena mendadak mengagumi almarhum. Mati muda, di tengah kesuksesan, mungkin di tengah kebahagiaannya hidup di dunia. Di tengah produktivitas kerja yang tinggi. Di saat sedang menikmati hidup.
Mungkin juga karena ketiba-tibaannya ini kemudian seakan-akan mengingatkan saya tentang keberartian semua orang dalam hidup ini. Terutama suami dan anak-anak.

Secara, apa sih yang saya tidak punya dalam hidup ini? Suami yang baik, anak-anak yang banyak, semoga soleh solehah. Pekerjaan dan anak-anak murid yang menyenangkan, teman-teman yang sudah seperti saudara.( Walaupun ada juga hal-hal yang tidak menyenangkan, dan banyak orang yang tidak menyenangkan. Sudahlah. Mereka harus tidak boleh jadi bagian hidup saya. Jadi, tidak selayaknya saya bersedih karena mereka).
Saya seharusnya menikmati hidup ini. Dengan bersyukur atas kehadiran dan kasih mereka. Dengan berterima kasih atas kesetiaan mereka.
Saya tidak bisa membayangkan bernasib seperti Angelina Sondakh dan ribuan wanita lainnya yang tiba-tiba kehilangan suami seperti itu. God... jangan.
Kalau saya boleh memohon ... jangan ....please...
Saya tak berani menghadapi hidup setelah ditinggal kematian orang-orang terkasih. Saya sudah pernah kehilangan bapak.... dan pedihnya masih menyembilu.
Tak terbayangkan juga membesarkan anak-anak sendiri...Oh no....

Tidak masalah menurut saya, saya punya perasaan seperti ini.
Hidup itu belajar, termasuk belajar dari orang lain. selayaknya bisa mengambil hikmah dari kejadian yang menimpa orang lain. Semoga kita tidak mendapat masalah yang sama atau bahkan lebih berat dari itu.

Selasa, 23 November 2010

Yang menulis itu tangan ...

begitulah penggalan kalimat yang disampaikan Irfan Amalee.
Penggalan kata yang memanaskan saya lagi.
Bagaimana sebenarnya saya sangat ingin menulis dengan baik dan disukai orang-orang, tapi apa daya, banyak perasaan ragu berkecamuk di dada. Takut, malu, dan sebagainya deh.

Sejatinya, saya ingin menuliskan apa yang setiap hari saya rasakan. Coba bayangkan, sehari saja saya menulis, maka setahun akan ada 360 tulisan. Itu sudah cukup banyak untuk dijadikan buku, tapi karena terkadang "perasaan" selalu menyangkut orang lain, maka saya kemudian jadi ragu, takut, bahkan malu dibaca orang. Padahal, tentu setiap orang punya masalah, kenapa harus malu ?
Siapa tahu tulisan kita ternyata menginspirasi banyak orang.

Kata Kang Irfan, menulis itu duduk di depan laptop atau komputer, tekan huruf-huruf yang ada di sana, dan biarkan jari-jari ini bermain semaunya.
Iya juga ya.
Sejauh ini tulisan saya sudah cukup banyak tuh di atas. Oke deh, saya lanjutkan,
saya akan coba tuliskan apa saja yang saya suka dan saya mau. Agar tidak merepotkan urusannya seperti Prita, saya akan hindari penulisan nama-nama orang lain yang tidak terlalu membahagiakan saya.

Kang Irfan sedikit membocorkan rahasia tentang tulisan pertama Quraish Shihab yang ajaib, dan ternyata tulisannya sekarang adalah tulisan yang ditunggu-tunggu banyak orang. Mungkin juga orang akan mencari-cari tulisan Quraish Shihab yang pertama itu yang mana ya, yang seperti apa ya...
Mungkin kejadian ini akan saya alami juga suatu saat. Di mana ketika saya terkenal, orang-orang mencari tulisan pertama saya di blog...(oooh: mimpi.com).

Pembelajaran dari batin dari Pelatihan BC

Ada banyak pelajaran 3 hari lalu di pelatihan kewirausahaan sosial yang diselenggarakan BC. Saya bertemu guru-guru dari beberapa sekolah islam. Saya bertemu dengan narasumber dan fasilitator yang juga saya suka.

Komunitas ini menawarkan pengalaman batin buat saya, tentang betapa pentingnya jiwa sosial dalam setiap usaha yang kita lakukan.

Saya adalah orang yang sangat setuju tentang kegiatan yang berarti membantu orang lain. Adrenalin saya sepertinya meninggi kembali. Menegangkan memikirkannya. Asik. Apalagi mengingat banyak kejadian yang saya marasa orang lain memerlukan kita. Hal-hal seperti bencana merapi, mentawai, padang, secara.. sesungguhnya saya ingin sekali ke sana.
Tapi ternyata saya dihadapkan kenyataan, di sini pun saya belum dapat mengerjakan apa-apa.

Otak saya berputar. Sedang memikirkan banyak hal untuk terus berubah, walau dalam tempat yang absolutely memandulkan.

Saya harus keluar dari keadaan ini. Dan saya harus jadi berguna lebih banyak.
Lihatlah.... saya akan berubah. BERUBAH !!!!